Minggu, 05 Juli 2015

My Goodbye









I think somewhere along the way, I gave up. I got tired of always trying to make everything between us okay, because I wanted you in my life. Then I realized that you didn’t even care. Maybe I realized it too late, but it still hurts.

 Maybe I was hoping that we’d find a way to change, and turn it back to what it used to be. I have to draw the line, because there comes a point where I just had enough, and I’d love to give up; but I never did, because I had hope that it would change.

 Now, I think I have to make that decision, because it’s not fair to the both of us—especially me. It pains me to say this, maybe because I still care, but I have to tell you goodbye. I know what my problem is, now. I can’t let people go. I put so much effort into putting them in my life that I just hang onto them. But, people change, and things aren’t what they used to be. I just wanted to tell you that I’m happy you’ve stepped into my life, even for a short while. You’ve made me realize a lot of things about myself, and the people around me. I’m going to miss you. So, for both our sakes, this is my goodbye.

Bagaimana Bila Nanti.....

Bagaimana bila nanti, kau atau aku tak lagi saling menunggu kabar, dan larut di dalam debar?

Bagaimana bila nanti, kau atau aku yang tak lagi mau menunggu saat salah satu terlambat datang, setelah pergi dan berjanji akan pulang?

Bagaimana bila nanti, kau atau aku berpaling pada yang dulu dianggap tak penting?

Bagaimana bila nanti, kau atau aku mendekat pada keinginan tak lagi ingin dekat, agar dengan entah siapa yang jauh bisa makin erat?

Bagaimana bila nanti, kau atau aku yang memutuskan berhenti, setelah apa yang selama ini telah sama-sama dijalani?

Bagaimana bila nanti, kau atau aku sampai pada titik meyakini bahwa perpisahan adalah yang tepat di antara pilihan lain untuk melanjutkan?

Bagaimana bila nanti, saat cinta benar-benar beralih dari hati, kau atau aku yang akan memperjuangkannya sekali lagi?

ASB

Senin, 12 Januari 2015

Aku Menunggumu, Siapa tahu kamu berubah pikiran :')

Sehabis hujan sore ini, aku kembali membaca ulang percakapan kita hasil ScreenShoot, saat aku dan kamu masih menjadi dua manusia yang bisa dibilang punya kecocokan juga kesamaan. Aku tertawa walaupun diam-diam hatiku teriris mengingat bahwa hal-hal manis ini tak mungkin terjadi lagi. Tak mungkin lagi aku berharap bahwa kamu akan berubah jadi pria yang dulu begitu kukenal, yang kehadiran selalu sulit kuduga, dan yang diam-diam membuat video lucu yang berhasil menggelitik kulit perutku; video yang kuplay dengan wajah sumringah. Kenyataan yang harus kuterima, kamu bukan lagi pria yang dulu sangat kupentingkan, kamu berubah jadi orang asing beralis tebal, berbulumata lentik, yang mungkin tak mau tahu lagi tentangcerita aku dan kamu,, ya karena aku dan kamu TIDAK pernah dan belum pernah menjadi kita.

 Rasanya aku masih mengingat kepulan asap rokokmu ketika pertama kali kita berjumpa. Aku masih mengingat wajah lonjongmu, bulu matamu lentik dibulat dengan tatapan hangat, hidung yang  mancung, bibir tipis melengkung sempurna yang aku biarkan terus berkata meskipun kadang aku tak memahami pikiranmu yang terlalu bebas. Aku masih ingat betapa suara beratmu merasuk masuk ke telingaku, melantunkan candaan kekonyolan yang tidak pernah kudengar sebelumnya.

 Aku masih menyimpan memori ketika kamu memakai tudung kepala yang kamu pakai dimalam itu sambil berkata Dingin :) , rambut ikal yang saat itu tersorot lampu ditengah kota, dan banyak hal lain yang jika semakin kuingat, semakin membuat dadaku sesak. Aku tak sadar mengapa perkenalan yang tidak sengaja ini sukses membuatku berharap terlalu jauh pada sosok selengean dan konyol sepertimu. Bagiku kesempurnaanmu adalah beban sangat berat untuk gadis seusiaku. Aku hanya perempuan biasa, kuliah di jurusan yang sangat sederhana, prestasiku tak seberapa, hobiku hanya menulis dan bermimpi, hanya itu yang bisa aku lakukan. Kamu? Dan, kamu? Kamu adalah pria luar biasa, yang diceritakan begitu sempurna dalam video dan rangkaian peristiwa kisah didalamnnya..

 Dan, ternyata kamu memang tak sejauh matahari, kamu bukanlah sebuah ilusi. Aku semakin dekat padamu,  Aku tak pernah paham apa yang membuatmu kini menjauh, Aku tak tahu mengapa hubungan yang awalnya kukira hanya main-main ini ternyata menimbulkan cerita membekas yang luar biasa dalam bagiku. Terlalu cepat jika semua harus berakhir. Terlalu cepat jika aku harus kembali bersedih karena kehilangan kamu dan berhenti bercanda tawa denganmu walau hanya dilayar handphone hasil jentikan jarimu. Aku sedang di puncak nyaman sama kamu, sementara kamu mendorongku dari atas sana, membiarkanku terjerambab, terjatuh sendirian, dan kamu tertawa seakan tidak melakukan kesalahan. Ini terlalu cepat.

 Perempuan yang selalu kamu sebut dengan tangguh ini masih ingin memperjuangkan dan mengusahakanmu, tapi mengapa 2minggulalu ada berita ditelingaku bilang bahwa kamu telah bersama yang lain? Mungkin, ini tidak akan pernah adil untukku, namun apa yang bisa aku tuntut? Kita tak punya status apapun, menangispun rasanya tak akan membuat kita kembali seperti dulu. Aku tidak membencimu. Aku cuma benci hari-hari tanpamu. Aku tidak akan pernah menyesal pernah mengenalmu. Aku hanya menyesal mengapa dulu saat kau tawarkan perkenalan, aku terlalu cepat untuk mengulurkan tangan? 
tapi yang aku tahu dari kamu adalah; kamu laki-laki yang hebat yang begitu sangat paham memahami dan menghargai perasaan perempuan.. ketika aku tahu apa yang dilakukan kamu ketika sekontak dan ketika tidak sekontak dengan aku.. 

Ketahuilah tampan kamu Luar Biasa :")
Khaliem Januar

Kamis, 01 Januari 2015

20Th [ sebutan lain dari cinta ]


Hari ini tanggal 1 Januari 2015 tepat nya usiaku 20Th, aku tersenyum seakan tidak ada yang salah, bicara seakan semuanya baik-baik saja dan berpura-pura seakan aku tidak sedang sakit hati.. hingga pada nyata nya gemericik hujan sore ini pun menyadarkanku akan banyak cidera luka dan cerita yang membuat mataku akhirnya menjatuhkan tetesan air yang tak kalah dengan langit diluar jendela sana..
Andai di dunia ini tidak ada yang namanya Hilangan, Mungkin aku tidak akan kehilangan sebanyak ini..

aku tak tahu kenapa Tuhan selalu memberiku jalan untuk tahu segala tentangnya, itu hanya akan membuat sakitku meradang, padahal berusaha melupakan dan menjauh dari segala tentangmu sudah membuatku cukup sakit..
bagaimana tak sakit menyukai lalu mencintai hingga tak mau kehilangan, serta memprioritaskan sampai  harus merelakan dan mengikhlaskan.. tanpa memiliki dan saling mencintai terlebih dahulu..
yang ada aku terlantar, terbanting karena berjuang sendirian dan bertepuk sebelah tangan..
jujur saja kadang aku suka sirik suka iri sama gadis yang kau puja yang kau sayangi kenapa aku tak bisa seperti itu yang mampu menyentuhmu, menyayangimu, berhak menanyakan kabarmu dan memperhatikan pola makanmu..
padahal tujuanku pun sama aku hanya ingin membahagiakan orang yg dikirimkan Tuhan..

betapa pun namamu tak pernah absen dalam doaku betapapun kamu selalu ku pentingkan sayang nya aku tak seberuntung dia yang bisa kamu sayangi juga..
jujur saja Tuhaaan aku bosan aku lelah, iya lelah pura-pura kuat, pura-pura jadi gadis tangguh dalam segala..
awalnya pun aku tidak pernah minta untuk sayang sama dia, jadi tolong dewasakan hati ini kalau cinta yang kau anugerahkan untukku  tidak selamanya bisa satu, tidak selamanya bisa saling mencintai dan saling memperjuangkan.. :')
Selamat Ulang Tahun gadis cerewet menyebalkan.. tetap kuat, tetap tangguh, kamu masih punya 2Tangan untuk menyeka air mata dipipimu ketika lelah mendera hati dan tubuhmu..
kamu mampu mencintai tanpa memiliki tapi percayalah Tuhan menciptakan JODOH untuk kamu cintai dan kamu miliki :')


                                                                                            Khaliem Januar

Sabtu, 20 Desember 2014

Bagaimana Rasanya jadi aku :')

Untuk Pengundang Tawaku... Di malam minggu sedingin ini, mungkin kamu sedang berpeluk dengan seseorang, sedang merasakan hangatnya kota, sedang menikmati suasana malam yang penerangannya begitu romantis, atau mungkin malah sedang bermain gitar sambil menertawakan dirimu sendiri. Malam ini, sambil mendengar lagu Melepasmu yang dilantunkan Erdian Aji Prihartanto, aku bermaksud mengantarkan perasaan rindu ini padamu, rindu yang tak kauketahui, rindu yang tak kaupahami, rindu yang tak kaugubris sama sekali. seperti biasa Hari ini pun, kamu tak menyapaku sama sekali. Aku berusaha mencari-cari alasan untuk menenangkan diriku sendiri. Pasti kamu sibuk, kamu sedang melakukan banyak hal, kamu sedang mengurus sesuatu yang membuatmu tak bisa terus menggenggam ponselmu.

Aku tak peduli, Sayang, hingga saat aku menulis ini; aku masih ingin menunggumu. Bodohkah aku? Tololkah aku? Iya, sejak kamu hadir mengguncangkan hari-hariku, aku tak lagi bisa bedakan mana kebenaran dan ketololan. Semuanya berkiblat ke arahmu, otakku dan hatiku. Semakin hari aku semakin sadar, aku sedang dalam keadaan sangat merindukan. Aku tak tahu apa arti semua ini, Sayang. Apa arti kedekatan kita? Apa arti kebersamaan kita? Apa arti komunikasi hangat kita yang terjalin selama beberapa hari lalu itu? Aku tak tahu dan tak ingin mencari tahu. Aku hanya tahu kamu tiba-tiba hadir, membawa perasaan berbeda dalam duniaku, dan kau menyelinap ke dalam hatiku; yang pernah aku kunci rapat-rapat untuk siapapun yang ingin singgah. Aku berharap kautak hanya singgah di sini, aku berharap kauakan tinggal dan menetap, serta berjanji tak akan pergi lagi.
Aku tak tahu apa arti semua ini. Aku tak tahu mengapa kauizinkan aku melangkah pelan, masuk ke dalam duniamu, dan kaubiarkan aku mengganggu aktivitasmu, kauizinkan aku bertanya banyak hal, kautak marah ketika aku mengganggu keseriusanmu. Aku tak kamu posisikan sebagai pengganggu, kaubuka tanganmu lebar-lebar, namun kautak mengajakku masuk ke dalam pelukmu. Aku tak tahu apa arti pesan singkat kita. Apa arti perlakuan hangat "Menggenggam, merangkul, mencium hangat keningku " di setiap akhir pertemuan kita. Aku tak tahu, namun aku masih ingin menjalani hari-hari ini bersamamu. Tak ingin semua berakhir dengan cepat. Aku ingin semua ini tetap ada dan terus ada, terutama kamu yang selama ini merasa sangat jauh dan semakin jauh. Aku sadar, Sayang, aku bukan siapa-siapa di matamu. Aku juga sadar, aku hanya gadis pemimpi yang mendambakan ksatria tangguh yang suatu saat akan membangunkanku dari tidur, namun kutahu sosok itu bukan kamu. Iya, bukan kamu, dan aku sangat terluka mengetahui kamu tak akan pernah jadi siapapun, serta aku tak akan pernah jadi siapa-siapamu. Jarak kita begitu jauh, jarak kasat mata yang tak terbaca indra, jarak yang hanya mampu dibaca oleh isyarat; di baca oleh hati kita masing-masing. 
Saat pada akhirnya aku bisa merasakan tatapanmu, mendengar jelas suaramu, menikmati suara serak cuek khasmu, memandangi kumis tipismu, menjamah rambut undercutmu; namun masih tak berani menyentuh sosokmu.  Bisakah kaubayangkan rasanya jadi aku? Saat aku sedang rindu-rindunya sama kamu. Kamu pulang dengan janji akan kembali, aku tak tahu kapan kaukembali dan ke mana kauakan kembali, karena diri ini bukan sosok siapa-siapamu, Aku tak mau berandai-andai, aku tak ingin berharap terlalu banyak, aku hanya ingin bertemu denganmu lagi, di sebuah tempat yang belum pernah kita singgahi, bukan di tempat saat aku harus membiarkanmu pergi.

Aku masih merasa mabuk, terbang, dan tak ingin pulang ke bumi. Aku ingin terbang bersamamu dan biarlah kita sama-sama jatuh ke bumi, dalam keadaan saling berpeluk, dalam keadaan berjanji tak akan saling meninggalkan. Aku menunggu saat-saat itu, saat kamu ke sini dan kita bertemu seperti pertama kali kita bertemu. Di saat itu, mungkin kita bisa saling merasakan yang disebut kehangatan ketika jemari kita bergenggaman, dan sumpah demi apapun, aku tidak akan membiarkanmu pergi, menjauh barang sejengkal pun. Aku sudah cukup sakit menahan rindu, menahan perih, menahan jarak; jangan lagi siksa aku dengan kepergian dan pengabaianmu [ LAGI ]. . Maukah kaupulang ke sini menghabiskan rindu yang selama ini menjadikanku gadis paling menyebalkan paling cerewet ? Maukah kaupulang dan berjanji tak akan pergi lagi? Maukah kaumemilihku sebagai tempatmu pulang? :')

Jumat, 19 Desember 2014

BY

Menggenggam, Bersandar, Merangkul, saling mendekap seperti tak mau dipisahkan oleh waktu.. nyatanya tiba-tiba lari menjauh itu Sakit Tuan :')
Akan tahu rasanya dibanting dan diterlantarkan itu ketika ditinggal menjauh tetapi tidak bisa mencegah untuk tidak mau ditinggalkan.. :') sakit memang  :)
Kalau emang sayang pasti bisa ngasih kepastian.
Kalo udah ditungguin tapi tak kunjung ada
kepastian, ya mungkin emang dianya gak ada rasa.. :)
Ketika kau sudah bahagia nanti, ingatlah aku
pernah memegang tanganmu erat dengan segala
debat yg hebat, untuk menolak sebuah kepergian...:')
Bukannya ingin menyerah, tapi keadaan dan fakta yang membuatku mundur. Jelas kamu menganggap kita teman. Jadi, apa lagi yg harus ku perjuangkan?

Kembalilah, Kamu tahu kan jalan untuk pulang? :')

Tanpa Kabar darimu Sekarang, aku harus membiarkan diri untuk bernapas tanpa perhatianmu. Aku mengawali hari, sambil menatap ponselku yang sepi tanpa kabarmu. Aku mencoba menerima kenyataan ini, sebagai gadis yang bukan siapa-siapamu, aku tak bisa menuntut banyak.
Aku hanya bisa mencintaimu dari sini dan jika rindu; yang kulakukan hanya satu.... membaca ulang pesan singkat kita. Pagi tadi, aku melawan panasnya udara di kota ini.. mulai masuk gerbang kampus memasuki kelas hingga mendengar candaan dari teman-teman dengan gaya rambut gondrong yg konyol badai sampai keluar gerbang kampus untuk pulang dan kembali bergelut dengan gulungan kabel kamera berserta cahaya efek dan sejenisnya.. Sambil tetap berharap kaumenyapaku barang sedetik saja, entah mengucap halo atau mengingatkan agar tidak telat makan, atau mungkin berkata rindu setelah beberapa hari kita tak bertemu dan komikasi kita yg mulai berantakan.
Abaikan itu semua, Sayang, kautahu sejak awal aku adalah wanita yang tahan banting disakiti berkali-kali jika sudah terlalu mencintai. Namun, semakin lama, semakin kusadari, mencintaimua dalah ketololan yang harusnya tak kulanjutkan. Aku harusnya tak perlu seberlebihan ini, tak perlu berharap terlalu banyak, tak perlu memimpikanmu agar memiliki perasaan yang sama. Tak perlu, Sayang, lupakan gadis tolol yang masih umur belasan ini, lupakanlah bahwa kita pernah berada dalam keadaan baik-baik saja,. Kamu akan membawaku pulang ke hatimu dan kita membuat banyak daftar mimpi baru untuk kita wujudkan bersama, namun aku salah, Sayang, kamu tidak sehebat itu. Kamu tak cukup hebat untuk kuperjuangkan mati-matian.
Sore tadi, sepulang mengurus skrip dan adegan yang menguras tenagaku, aku masih menatap ponsel berkali- kali, berharap itu kamu yang mungkin saja sama rindunya denganku. Sayang, kautahu aku ini gadis yang senang marah-marah tapi di dalam hati ini ada rindu yang ingin ikut meledak dalam amarah.  Tapi, aku tak tahu kapan saat itu datang, aku tak tahu harus bersabar berapa lama lagi. Aku tak tahu harus menunggumu sampai kapan lagi.
Jemari ini telah lelah mencoba menyentuh hatimu yang dingin. Kaki ini telah tak sanggup lagi melangkah karena enggan kaubawa lari jauh-jauh lagi, aku takut di persimpangan jalan sana, kauakan meninggalkanku, mengejar tujuanmu sendiri tanpa menyertakan aku dalam langkahmu.
Adakah kautahu, Sayang, gadis yang selalu menunggumu pulang ini tak akan secerewet ini jika sehari saja kaukabari dia, kausapa dia, kauberi sedikit cium meskipun cium itu masih berbentu emoticon dan tulisan. Aku sendiri kesepian, aku kehilangan senyumku, senyumku seakan-akan tergantung pada kehadiranmu. Kaujauh di sana entah sedang menyelamatkan mimpi siapa, mungkin di sana kaujuga lupa ada yang diam- diam mendoakanmu, melipat tangannya, menitikan air matanya, saat berkali-kali namamu tak absen dalam doanya. Sayang, tolong kembalikan senyumku.

Ya, pokoknya singkat kata, kamu pulang, ya. Cepet! Aku kangen kamu, kangen kita, kangen semua. Tolong, jangan pergi lagi... :')